Pages

Minggu, 23 Oktober 2011

30 Persen Pekerja Kantoran Alami Stres


Jakarta, Indonesia (News Today) - Setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat di mana merasa stres saat bekerja. Akibat stres, seringkali apa yang dikerjakan hasilnya menjadi tidak maksimal, bahkan bisa berantakan.

Penelitian yang pernah dilakukan Program Studi Magister Kedokteran Kerja, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) terhadap para pekerja kantoran di Indonesia pada tahun 1990-an menunjukkan, sekitar 30 persen karyawan pernah mengalami stres di tempat kerja, dengan beragam keluhan mulai dari yang ringan sampai berat.

"Harus disadari 15-30 persen pekerja pernah mengalami masalah kesehatan jiwa," ujar dr. Dewi S. Soemarko, MS, SpOK, Ketua Program Studi Magister Kedokteran Kerja, FKUI, Selasa, (19/7/2011), di Jakarta.

Menurut Dewi, faktor risiko stres kerja dapat dipengaruhi dari lingkungan kerja (bising, tata ruang, suhu, pencahayaan), beban kerja, peran individu dalam organisasi dan faktor individu itu sendiri.

"Dan itu memang sudah terbukti dengan beberapa tempat memang stres itu ada. Tapi itu kan bisa recovery, itu tidak menetap istilahnya," imbuhnya.

Untuk mengukur tingkat stres kerja seseorang, kata Dewi, dapat dilakukan lewat metode kuisioner. Dengan kuisioner dapat diihat berapa banyak pekerja yang mengalami stres mulai dari ringan, sedang sampai berat.

Penanganan harus di fokuskan bagi mereka yang diketahui mengalami stres sedang dan berat. Pasalnya, jika tidak segera ditolong dan dibiarkan, akan berakibat yang lebih buruk. Sedangkan untuk mereka yang stres ringan, hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan, karena semua orang pasti stres.

Dewi menambahkan, untuk mengurangi stres bekerja umumnya dapat dilakukan oleh individu maupun perusahaan. Dari individu, yang harus dilakukan adalah menerima semua keadaan dengan pasrah, belajar untuk rileks, latihan mengontrol emosi, tidur dan istirahat yang cukup, serta makan teratur dengan menu seimbang.

Sedangkan dari perusahaan, salah satu cara untuk mengurangi stres kerja adalah dengan berekreasi bersama-sama. Misalnya dalam bentuk kegiatan kerohanian dan diskusi.

"Itu sebenarnya salah satu hal untuk mengurangi rasa stres. Karena kalau perusahaan sendiri nggak tau apa mau karyawan, mereka juga akan stres," jelasnya.

Lebih lanjut Dewi mengatakan, di beberapa perusahaan besar umumnya sudah banyak yang mengaplikasikan program manajemen stres atau program pendampingan untuk pekerja. Dalam hal ini, pekerja-pekerja yang memang dirasakan perlu pendampingan, biasanya akan didampingi oleh psikolog dan psikiater di mana pekerja bisa curhat, mengeluarkan masalah dan diberikan solusi.

"Jadi perusahaan-perusahaan besar sudah melakukan itu, terutama perusahaan migas," tandasnya.

Diperlukan usaha untuk dapat mengenali tanda-tanda stres kerja sejak dini. Dewi memaparkan, ada 3 hal yang dapat dijadikan patokan untuk mendeteksi secara dini seorang pekerja yang mengalami stres.

1. Emosional Warning Sign : cemas, gangguan tidur, marah, susah konsentrasi, sedih, mood sering tidak baik.

2. Physical Warning Sign: postur tubuh berubah, keringat dingin, kelelahan kronik, dan psikosomatik.

3. Behavior Warning Sign: reaksi berlebihan, minum alkohol, menarik diri, ganti-ganti pekerjaan, dan merasa lesu.

0 komentar:

Poskan Komentar