Pages

Kamis, 10 November 2011

Merasakan Tsunami di Museum



(News Today) - Kurang lengkap rasanya tidak mengunjungi Museum Tsunami Aceh apabila Anda tengah melancong ke Aceh. Berkunjung ke museum ini seperti membuka ingatan Anda tentang bagaimana hebatnya gempa bumi berkekuatan 8,9 SR yang disertai tsunami meluluhlantakkan sebagian besar wilayah pesisir Provinsi Aceh pada 26 Desember 2004.


Tidak sulit rasanya menemukan museum yang terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda Blang Padang, Kota Banda Aceh, ini. Pasalnya, arsitektur museum ini cukup indah. Betapa tidak, museum ini berbentuk pusaran tsunami.


Museum dirancang dengan menggabungkan konsep rumoh Aceh (rumah bertipe panggung) dengan konsep Escape Building Hill atau bukit untuk menyelamatkan diri. Keindahan juga terlihat pada dinding bagian luarnya yang bermotifkan tari saman. Indahnya arsitektur inilah yang membuat museum ini ramai dikunjungi.


Pengelola Museum Tsunami Aceh, Suburhan, menjelaskan, pengunjung yang datang ke museum ini sekitar 250 hingga 280 orang pada setiap akhir pekannya. Ketika berada museum, Anda langsung disuguhkan salah satu bukti sejarah tsunami.


Kendaraan jenis truk berwarna putih milik Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) mejeng di depan halaman museum. Truk ini pernah digunakan untuk mobilisasi bantuan tsunami ke daerah yang sulit dijangkau dengan kendaraan standar.


Museum tsunami terdiri dari tiga lantai dan satu lantai dasar. Begitu masuk ke lantai dasar Anda harus melalui Lorong Tsunami. Lorong yang panjangnya lebih kurang 10 meter itu menyuguhkan suasana mencekam. Lorong tersebut begitu gelap dan sayup-sayup terdengar lantunan ayat-ayat suci Al Quran disertai gemericik air.


"Saat masuk ke lorong itu Anda seolah-seolah berada di dalam tsunami," kata Suburhan.


Selanjutnya, pengunjung dapat melihat rangkaian peristiwa tsunami di memorial hall serta dapat mengirimkan doa untuk para korban tsunami Aceh di Sumur Doa. Lebih kurang seribu nama korban terpampang di dinding sumur dan di bagaian atasnya terdapat lafal Allah. Dari lantai dasar pengunjung akan langsung menuju lantai dua melalui Lorong Kebingungan.


Suburhan menjelaskan, lorong ini menggambarkan bagaimana kebingungan yang dirasakan masyarakat Aceh ketika tsunami. Namun, setelah tsunami, masyarakat Aceh merasakan suasana yang penuh damai. Itu digambarkan ketika pengunjung keluar dari Lorong Kebingungan menuju Jembatan Perdamaian.


Di bagian atas jembatan tergantung bendera dari berbagai negara dengan tulisan "Damai." Dari situ pengunjung juga bisa menikmati suasana lantai satu yang merupakan area terbuka yang dilengkapi dengan kolam di tengahnya dan beberapa prasasti berupa batu bulat bertuliskan negara-negara yang memberikan bantuan pada saat terjadi bencana Aceh.


Naik ke lantai dua terdapat ruangan tempat pengunjung bisa melihat rekaman-rekaman kejadian tsunami. Selain gambar-gambar peristiwa tsunami, di lantai ini terdapat diorama dan artefak-artefak jejak tsunami seperti artefak sepeda dan motor.


Bukan hanya itu, di lantai ini juga terdapat ruang audiovisual untuk pemutaran film peristiwa gempa bumi dan tsunami berdurasi sepuluh menit. Sementara lantai paling atas berisi media-media pembelajaran (edukasi) berupa perpustakaan serta beberapa panel edukasi dan alat peraga.


Pengunjung juga bisa merasakan bagaimana kekuatan gempa dengan masuk ke ruangan simulasi gempa. Pembelajaran soal gempa dan tsunami bisa dirasakan dengan media empat dimensi. Sayang, tayangan empat dimensi sedang rusak sehingga pengunjung tidak bisa menikmatinya.


"Film yang diputar adalah film kartun Jepang soal gempa dan tsunami. Ada efek air, gelembung udara, dan api," kata salah satu pemandu museum, Irwan.


Terlepas dari itu, museum ini sangat luar biasa dengan arsitektur yang mengagumkan. Museum ini juga menjadi pembelajaran bagi masyarakat Aceh bagaimana mengatasi gempa dan tsunami. Oleh karena itu, sangat sayang apabila tidak mengunjungi museum ini. Apalagi, Anda tidak akan dipungut biaya sepeser pun mengunjungi museum ini.

0 komentar:

Poskan Komentar