Pages

Sabtu, 24 Desember 2011

Analisis Mimpi Manusia yang Canggih


Bermimpi merupakan suatu aktivitas unik yang tak pernah disadari manusia ketika sedang tidur. Oleh para ilmuwan Max Planck, kini aktivitas manusia selama bermimpi bisa diukur. Penelitian yang bekerja sama dengan rumah sakit Charite di Berlin kini telah berhasil menganalisis aktivitas otak selama bermimpi untuk pertama kalinya. Hasil riset ini telah diterbitkan dalam jurnal Current Biology.



Mereka melakukan penelitian ini dengan alat resonansi magnetik (NMR) untuk melihat pencitraan aktivitas otak manusia. Alat ini digunakan untuk melihat gambar otak yang diamati ketika sedang bermimpi. Para ilmuwan menghitung aktivitas mimpi dengan mencocokkan salah satu aktivitas ketika sedang terjaga.

Dengan NMR, peneliti memungkinkan juga untuk melihat ‘peta lokasi’ yang tepat dari otak ketika sedang bermimpi. Namun, sampai sekarang penelitian ini belum bisa meneliti bagian otak mana yang berhubungan langsung dengan isi mimpi.

'Pemimpi' yang diteliti diminta untuk segera bangun dari mimpi ketika scaner NMR mendeteksi sesuatu. Untuk mengetahui bahwa ‘pemimpi’ sudah terbangun, peneliti melihat dari pergerakan mata. Pemimpi kemudian diminta untuk mengepalkan tangan kanan berulang kali, lalu bergantian mengepalkan tangan kiri mereka selama sepuluh detik.

Sebuah wilayah di korteks sensorik motorik otak- yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan gerakan, sebenarnya diaktifkan selama mimpi itu. Hal ini secara langsung sebanding dengan aktivitas otak yang muncul ketika mengepalkan tangan kanan lalu berpindah tangan kiri ketika sedang terjaga. Bahkan jika pemimpi hanya membayangkan gerakan tangan saat terjaga, korteks sensorik motor bereaksi dengan cara yang sama.

Hubungan antivitas otak selama bermimpi dan tindakan sadar menunjukkan bahwa isi mimpi dapat diukur. "Dengan metode ini, kita dapat mengukur tidak hanya gerakan sederhana selama tidur, tetapi juga pola aktivitas di otak selama persepsi visual yang mimpi," ujar Martin Dresler, seorang peneliti di Institut Max Planck untuk Psychiatry.

0 komentar:

Poskan Komentar