Pages

Rabu, 11 Januari 2012

Indonesia Bisa Bangkrut Seperti Eropa

Ilustrasi
JAKARTA - Dalam memenuhi pembiayaan atau membayar utang, pemerintah mengandalkan refinancing atau buyback, di mana pemerintah telah melakukan transaksi penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam valuta asing berdenominasi dolar AS seri RI0142.

Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan tindakan pemerintah seperti ini tidak sehat karena menurutnya kalau terus menerus akan kejadian seperti di Eropa. Walaupun demikian efek ini akan dirasakan dalam jangka panjang jika pemerintah selalu mengggunakan dana lelang SBN.

“Kalau terus menerus seperti ini pemerintah akan kesulitan dalam membayar utang, dan bisa seperti Eropa tapi memang tidak akan dalam waktu dekat," ucap Lana di Jakarta, Rabu (11/1/2012).

Oleh karena itu, Lana menilai pemerintah diharapkan bisa mengubah pola pembayaran utang yang selalu menggunakan dana lelang SBN ini. "Pemerintah perlu memiliki tabungan khususnya dari penerimaan negara untuk pembayaran utang-utang tersebut," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, untuk membiayai APBN pada awal tahun ini, pemerintah melakukan penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam valuta asing yang berdenominasi dolar seri RI10142.

Dirjen Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan, transaksi ini merupakan bagian dari Program Global Medium Term Notes (GMTN) Indonesia sebesar USD15 miliar, sebagaimana telah di-update pada 9 Januari 2012.

"Sesuai kewenangan UU No 24 Tahun 2002 tentang SUN, Menteri Keuangan Menetapkan hasil penjualan SUN dengan Seri RU10142 dengan tenor 30 tahun. Dan nominal yang diterbitkan USD1,75 miliar dengan tingkat kupon 5,25 persen. Yield 5,37 persen dengan price 98,148 persen," ungkap Rahmat dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (10/1/2012).

Rahmat menambahkan, SUN tersebut akan jatuh tempo pada 17 Januari 2042 dan tanggal setelmen alias penerbitan, akan dilakukan pada 17 Januari 2012. Lebih lanjut Rahmat mengatakan, penawaran yang masuk (total order book) adalah sebesar USD3,6 miliar, sehingga terdapat oversubsciption sebesar 2,06 kali

0 komentar:

Poskan Komentar