Pages

Kamis, 12 Januari 2012

Hematuria atau Darah dalam Urine

Darah dalam urine disebut hematuria. Jika darah tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang, disebut gross hematuria. Sedangkan jika darah hanya dapat dilihat dibawah mikroskop disebut hematuria mikrokopik. Jika timbul hematuria, berarti telah terjadi kebocoran pembuluh darah dalam sistim saluran kemih, mungkin di ginjal, perlvis ginjal, ureter, kandung kencing, atau uretra.

Beberapa penyebab hematuria adalah:
  • Infeksi saluran kencing
  • Infeksi ginjal (Pielonefritis)
  • Glomerulonefritis
  • Batu ginjal atau batu buli-buli
  • Pembesaran prostat
  • Kanker ginjal atau prostat
  • Gangguan bawaan seperti anemia sel sabit, sindrom Alport
  • Cedera ginjal
  • Obat-obatan : aspirin, penisilin, warfarin, heparin, siklofosfamid.
  • Olahraga berat
Tidak ada pengobatan spesifik untuk hematuria. Pengobatannya tergantung pada penyebabnya:
  • Infeksi saluran kemih, biasanya diatasi dengan antibiotik.
  • Batu ginjal, dengan banyak minum. Jika batu tetap tidak keluar, dapat dilakukan ESWL atau pembedahan.
  • Pembesaran prostat, diatasi dengan obat-obatan atau pembedahan.
  • Kanker, dilakukan pembedahan, untuk mengangkat jaringan kanker, atau kemoterapi.
Faktor risiko untuk hematuria adalah orang berusia 40 tahun atau lebih, merokok, pekerjaan yang sering membuatnya terpapar bahan kimia, mengkonsumsi obat tertentu atau pernah melakukan iradiasi tulang panggul.

Ada 3 tipe hematuria, yaitu:
  • Initial hematuria, jika darah yang keluar saat awal kencing.
  • Terminal hematuria, jika darah yang keluar saat akhir kencing. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya tekanan pada akhir kencing yang membuat pembuluh darah kecil melebar.
  • Total hematuria, jika darah keluar dari awal hingga akhir kencing. Hal ini kemungkinan akibat darah sudah berkumpul dari salah satu organ seperti ureter atau ginjal.
Keluhan memegang peranan penting untuk menentukan ke arah mana pemeriksaan selanjutnya, seperti kapan terjadi hematuria, bagaimana nyerinya dan daerah mana yang terasa nyeri apakah di pinggang, perut bawah atau perut bagian tengah.

Untuk mendiagnosis hematuria biasanya dilakukan tes urin dengan menggunakan dipstick, jika hasilnya positif terdapat darah maka dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan mikroskop, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan cytology urine dan pemeriksaan fisik.

Jika dalam analisis urine ditemui adanya protein, nitrit atau leukosit, maka kemungkinan terjadi infeksi pada saluran urine (urine tract infection / UTI) yang bisa disebabkan oleh bakteri ataupun virus.

Hematuria bisa menjadi indikasi adanya gangguan yang serius pada tubuh dan biasanya terjadi tanpa adanya gejala yang muncul sehingga sering diabaikan. Selain itu, mengonsumsi air putih yang banyak sehingga warna urinenya lebih jernih tidak bisa menyembuhkan hematuria.


0 komentar:

Poskan Komentar