Pages

Sabtu, 11 Agustus 2012

Etika Berkirim Email dalam Dunia Kerja


Setiap orang pasti pernah terburu-buru dalam mengirim email kepada rekan atau klien tanpa berpikir? Ada baiknya Anda mulai berpikir ulang atau membaca kembali email yang akan dikirim sebelum menekan tombol 'send'.

Sebab, menurut sebuah studi teranyar kesalahan ejaan atau tata bahasa dalam pesan dapat meninggalkan kesan negatif yang abadi.Dua pertiga dari orang mengatakan bahwa mereka kurang mempercayai orang yang mengirim email yang terkesan asal-asalan.

Tak hanya itu, ada lagi  yang perlu Anda perhatikan, jika lain kali Anda berencana cuti berlibur jangan lupa untuk mengirimkan email kepada rekan serta klien kantor.


Laporan, oleh Staples UK,
perusahaan besar dunia yang bergerak dalam produk kantor dan sumber terpercaya untuk solusi kantor, menemukan fakta bahwa meluangkan waktu mengirim email selama cuti memiliki efek positif pada hubungan dengan rekan kerja dan klien. Sebab dalam penelitian sebanyak 58 persen pekerja kantor mengaku merasa jengkel dan tidak akan melakukan bisnis dengan orang yang mengambil cuti dan tidak meninggalkan pesan 'Out of Office' sama sekali. Menurut mereka itu menunjukkan kurangnya profesionalisme.

Amee Chande, Managing Director Staples UK, mengatakan: "Orang-orang membaca email cuti atau berlibur lebih sering dari yang kira."


"Misalnya, saat Anda mengambil cuti melahirkan beritahukan kepada seluruh rekan dan kolega Anda. Jangan lupa sertakan sebuah kontak alternatif dan tanggal Anda akan kembali di kantor, klien dan kolega Anda akan menghargai."


Survei tersebut juga menemukan bahwa 46 persen dari pengusaha Inggris tidak pesan saat cuti adalah sebagai salah satu hal terbesar yang mengsalkan.


Sayangnya meski kebutuhan meninggalkan pesan sedang cuti jelas bertujuan  menjaga hubungan baik klien dan rekan kerja, mayoritas perusahaan tidak memiliki kebijakan ini. Maka, 52 persen pekerja membuat insiatif sendiri sedangkan 18 persen tidak pernah repot-repot mengirimkan email sama sekali.


Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk yang 18 persen?



0 komentar:

Poskan Komentar