Pages

Tampilkan postingan dengan label Sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sex. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2011

Seberapa Enak Pakai Kondom? Tanya Jupe si Duta Kondom

img

(dok: detikHot)
 
Jakarta, Banyak pria yang menolak menggunakan kondom karena dianggap bisa mengurangi kenikmatan seksual. Tapi menurut duta kondom Julia Perez alias Jupe, wanita justru sebaliknya, karena beberapa varian kondom justru dapat membuat wanita lebih menikmati tanpa ada risiko hamil dan penularan penyakit seksual.

"Banyak pria yang menolak memakai kondom. Tapi saya sebagai pelaku, dulu waktu sama suami saya pernah merasakan pakai kondom, itu enak-enak aja kok," jelas Julia Perez dalam acara Sex Survey Presentation 2011 di Four Season Hotel, Jakarta, Senin (5/11/2011).

Menurut Jupe, tidak harus selalu pria yang membeli dan menyediakan kondom, wanita juga memiliki peran besar untuk membuat pria mau menggunakan kondom, antara lain dengan merayunya dengan halus.

"Wanita punya nilai bargaining untuk membuat pria mau menggunakan kondom. Dirayu si pria, kalau dia mulai terangsang diajak pakai kondom pasti mau," ucap Jupe sambil memperagakan gaya genitnya mengajak seorang pria untuk mau menggunakan kondom.

Jupe mengaku bangga bisa didaulat sebagai duta kondom. Menurutnya, tidak ada hal yang lebih bahagia selain hidup bisa bermanfaat untuk orang lain.

"Saya prihatin dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia. Seks edukasi ini sangat penting. Seks tanpa pengetahuan yang baik bahaya juga," terangnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh psikolog seksual, Zoya Amirin M.Psi. Menurutnya, varian kondom tertentu justru dapat membuat wanita bisa mengalami beberapa kali orgasme (multiple orgasme).

"Banyak yang menganggap kalau kondom itu dapat melegalisasi seks pra nikah. Hal itu tidak mungkin terjadi pada orang yang belum pernah merasakan seks, tapi pada yang sudah merasakan paling tidak itu bisa melindungi dari kehamilan yang tidak diinginkan dan terhindar dari penyakit seksual," jelas Zoya Amirin M.Psi, Psikolog seksual dan pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Ada berbagai alasan yang membuat orang malas pakai kondom, untuk laki-laki takut mengurangi sensasi dan repot memakainya. Sementara banyak wanita yang masih malu-malu meminta pasangannya untuk memakai kondom.

Meski sering disepelekan, tapi ada 3 hal yang menjadi alasan mengapa seseorang sebaiknya menggunakan kondom saat melakukan hubungan seks, yaitu:

  1. Untuk mengendalikan kelahiran sehingga bisa menghindari kehamilan yang tidak diinginkan.
  2. Untuk melindungi diri terhadap penyakit menular seksual atau infeksi menular seksual.
  3. Sebagai pelindung tambahan atau cadangan dari metode kelahiran lain yang digunakan (misalnya lupa mengonsumsi pil KB).

Senin, 05 Desember 2011

Ini Dia Sekolah Seks Pertama di Dunia

Image: corbis.com
Image: corbis.com
INGGRIS – Sekolah seks internasional pertama di dunia telah dibuka di Wina, Austria. Sekolah ini mengklaim akan mengajarkan siswanya bagaimana menjadi pecinta yang baik.

Agar tidak dicap hanya mencari sensasi, International Sex School memungut biaya mahal untuk siswanya. Disebutkan bahwa satu jangka waktu pendidikan memakan biaya hingga 1.400 poundsterling atau setara dengan Rp19 juta (Rp14.268 per poundsterling).

‘Kepala sekolah’ Ylva-Maria Thompson mengatakan, siapa pun yang berusia di atas 16 tahun dapat mendaftarkan diri di ‘perguruan tinggi pertama di dunia yang menerapkan seks’.

Menurut wanita kelahiran Swedia ini, siswa dan siswi akan tinggal di satu asrama. Mereka diharapkan dapat mempraktikkan pekerjaan rumah. Inti pendidikan sekolah ini memang bukan teori, tetapi praktik. Penekanan mereka adalah bagaimana agar para mahasiswanya menjadi pecinta yang lebih baik.

“Kami mengajarkan posisi seks, teknik membelai, anatomi,” ujar sang kepala sekolah seperti dikutip dari Huffingtonpost, Sabtu (3/12/2011).

Selama ini, Thompson dikenal sebagai seniman eksentrik. Dia pernah melakukan pameran seni yang menampilkan 100 cetakan alat kelamin wanita Swedia.

Iklan sekolah yang dinilai vulgar telah dicekal oleh televisi Austria. “(Iklan) ini dikemas secara gaya, namun sesunguhnya mereka hanya menjual seks,” komentar seorang pemrotes.

Sabtu, 19 November 2011

BAHAYANYA MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS DI USIA DINI



Hai sahabat muda bacalah artikel ini secara seksama, untuk anda ketahui dari dampak negatif melakukan seks di usia muda. Sebelumnya anda perlu memahami bahwa, remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya.

Pentingnya Pendidikan Seks

Pendidikan seks atau seksualitas pendidikan adalah proses perolehan informasi dan pembentukan sikap dan keyakinan tentang seks, identitas seksual, hubungan dan keintiman. Ini juga merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pendidikan mengenai anatomi seksual manusia, reproduksi seksual, hubungan seksual, kesehatan reproduksi, hubungan emosional dan aspek lain dari perilaku seksual manusia.

Sangatlah jelas pengaruh pergaulan bebas yang di luar ambang batas memiliki konteks negatif kuat dikalangan remaja saat ini. Disinilah tugas berat yang harus dipikul oleh para orang tua lebih bisa memperhatikan perilaku remajanya di lingkungan keluarga dan lingkungan sehari-hari dalam pergaulannya. Kontrol seringlah dilakukan dengan di imbangi adanya mengarahan yang positif tentang dampak-dampak negatif dalam pergaulan bebas, khususnya tentang pengetahuan seks dan narkoba. Bimbing serta arahkan terus kepada pendidikan kerohanian yang lebih kuat untuk pagar pelindung dirinya bagi remaja-remaja tercintanya.

Bahaya Melakukan Hubungan Seks Pada Usia Muda

Hubungan seks di usia remaja meningkatkan risiko terkena kanker leher rahim atau serviks penyebab kematian, kata Plt Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau, Dwi Listya Wardhani, di Batam, Selasa (19/7).



Di hadapan empat puluhan remaja dari seluruh kota/kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau dalam kegiatan Orientasi Pusat Informasi Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja Tahap Tegak, Wardhani mengatakan, kanker serviks merupakan kanker yang disebabkan oleh Human Papilloma Virusvirus (HPV).

"Pria dan wanita yang telah berhubungan intim turut berisiko terinfeksi HPV. Terutama yang pernah melakukan hubungan intim saat remaja (usia belasan tahun)," kata dia di Hotel Pusat Informasi Haji Batam Centre, Batam.

Menurut Wardhani, usia menimal wanita melakukan hubungan seksual adalah 21 tahun, itupun harus dilakukan setelah ada ikatan pernikahan. "Jika dilakukan sebelum usia matang, maka akan sangat beresiko terkena serviks," Tambah Wardhani.

Berdasarkan penelitian Organisasi kesehatan dunia (WHO), kata Wardhani, 490.000 wanita di seluruh dunia didiagnosa kanker serviks setiap tahun. Bahkan, hampir setengahnya meninggal dunia.

"Artinya, setiap dua menit, seorang wanita meninggal akibat kanker serviks. Di Indonesia sendiri, satu wanita meninggal setiap jamnya," kata Wardhani.

Hal tersebut, tambah Wardhani, harus menajadi perhaian para remaja agar tidak menjadi korban berikutnya. "Remaja harus punya sikap. Jangan sampai terjebak pada pergaulan bebas," kata dia.

Survei Komisi Perlindungan Anak pada 2010 terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia menemukan 93 persen remaja pernah berciuman, 62,7 persen pernah berhubungan badan, dan 21 persen remaja telah melakukan oborsi.

"Tak jarang, seorang wanita justru meniggal saat melakukan aborsi. Semua bisa dicegah, kuncinya bentengi diri dan hindari seks bebas," kata Wardhani.

Harus Sekarang Kapan Lagi Diperhatikan

Selain itu, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas. Dalam keterpurukan dunia remaja saat ini, anehnya banyak orang tua yang cuek seperti tidak mau tahu saja terhadap perkembangan anak-anaknya. Kini tidak sedikit banyak orang tua dengan alasan sibuk karena termasuk tipe “jarum super” alias jarang di rumah suka pergi, lebih senang menitipkan anaknya di babby sitter.

Ini adalah tugas para orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk lebih mengedepankan lagi adanya pendidikan dan pengetahuan tentang seks dikalangan remaja yang harus di imbangi adanya pendidikan dan pengetahuan keagamaan yang lebih mengikat. Hal ini sangatlah perlu untuk acuan dan filter bagi mental para remaja didalam pengetahuan akidah dan ahklaknya. Pendidikan dan pengetahuan keagamaan harus di nomor satukan lagi di lingkungan sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Karena saat ini pendidikan yang berjalan di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya lebih terpokus kepada pelajaran matematika, bahasa ingris, komputerisasi dan lainnya sebagainya yang kurang memperhatikan adanya pengimbangan pendidikan dan pengetahuan akidah dan ahklak itu sendiri.

Orgasme Bisa Serempak bila Si Dia Tampan

















Masalah orgasme masih menjadi misteri bagi sebagian besar perempuan. Menurut majalah Women's Health, hanya 25 persen perempuan yang selalu mencapai orgasme selama berhubungan seks. Bandingkan dengan pria yang persentasenya mencapai 90 persen (dalam mencapai klimaks). Perempuan kerap ditinggalkan dalam keadaan tidak puas karena pasangannya keburu mencapai klimaks.

Padahal, orgasme pada perempuan itu memiliki tujuan evolusioner untuk meningkatkan kesuburan dengan cara meningkatkan retensi sperma. Agar orgasme perempuan itu meningkatkan kesuburan, perempuan harus meraihnya sekali dalam waktu satu menit sebelum dan 45 menit setelah pria berejakulasi. Dalam kenyataannya, jarang sekali ada pasangan yang meraih orgasme secara serempak, atau perempuan ikut mencapai klimaks setelah pasangannya orgasme.

Sebuah studi baru yang mengamati pemilihan waktu dan frekuensi orgasme perempuan menemukan bahwa rata-rata perempuan mencapai orgasme sebelum pria, dan sering kali tidak diraih hanya melalui intercourse, tetapi juga aktivitas seksual lainnya. Datanya adalah sebagai berikut:

- 42 persen perempuan mengalami orgasme senggama sebelum pasangannya berejakulasi
- 28 persen perempuan mengalami satu kali orgasme selama ejakulasi (bersamaan)
- 33 persen perempuan mengalami orgasme setelah ejakulasi
- 54,5 persen perempuan mengalami orgasme non-senggama
- 72 persen perempuan mengalami orgasme selama masturbasi

Yang menarik, peneliti mendapati bahwa frekuensi orgasme wanita meningkat ketika pasangannya sangat menarik atau maskulin. Hasil studi yang dimuat di jurnal Evolution and Human Behavior ini menunjukkan, semakin tampan si pria, semakin besar kecenderungan perempuan mengalami orgasme. Selain itu, semakin besar juga peluangnya mengalami orgasme secara serempak, atau segera setelah pasangannya ejakulasi.

Meskipun begitu, mencari pria yang ganteng bukan satu-satunya cara yang bisa dilakukan wanita untuk mendapatkan klimaks yang memuaskan. Apalagi, ketampanan atau keseksian seseorang itu relatif. Ian Kerner, terapis seks dan penulis buku She Comes First: The Thinking Man's Guide to Pleasuring a Woman, mengatakan bahwa peluang perempuan untuk orgasme meningkat ketika ia menerima stimulasi klitoral yang terus-menerus. Perempuan akan lebih mudah mendapatkan stimulasi ini, menurut Kerner, bila posisinya berada di atas (woman on top) atau dalam posisi yang sama bila ia sedang masturbasi.

Kerner juga menyarankan agar perempuan berhenti menjadi "penonton", atau terlalu mengkhawatirkan penampilan atau performa seksualnya. Pendek kata, rileks sajalah, dan nikmati sesi bercinta Anda sepenuhnya.

Kamis, 17 November 2011

Kumpulan Betis Terindah
















Selasa, 15 November 2011

Seks bagi Perempuan Hanya Kewajiban?



Kehidupan seksual suami istri sangatlah berpengaruh pada kehidupan rumah tangga mereka. Namun sebuah survei yang dilakukan oleh situs Healthy Women mengungkapkan bahwa sekitar 66 persen perempuan melakukan aktivitas seksual hanya sekali dalam seminggu, atau bahkan kurang dari itu. Yang lebih parah, hal yang mendasari aktivitas seksual ini bukanlah hasrat seksual, melainkan lebih karena dorongan kewajiban sebagai istri.

Apa sebenarnya yang membuat berkurangnya gairah bercinta ini?

Menurut penelitian situs tersebut, padatnya aktivitas dan berkurangnya waktu menjadi alasannya. "Ini seperti tren yang berkembang pada perempuan, dimana hubungan seks hanya dilakukan semata-mata demi kewajiban, bukan sebagai gairah alami dan untuk kenikmatan. Para perempuan yang disurvei mengatakan rasanya waktu yang hanya 24 jam per hari tidak cukup untuk melakukan banyak hal penting, sehingga seks bukanlah prioritas yang harus dilakukan," ungkap psikiater Naomi Greenblatt, MD.

Hubungan seks sebenarnya bukan sekadar sarana memuaskan hasrat seksual, karena sebenarnya ada beberapa manfaat kesehatan yang dapat diambil dari kehidupan seks yang aktif. Aktivitas seks yang teratur dapat menurunkan tingkat stres, memperkuat otot panggul, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan membakar kalori.

"Perempuan yang bercinta minimal empat kali dalam seminggu bisa membuat wajah mereka terlihat 10 tahun lebih muda dibanding usia yang sebenarnya," ungkap Dr Greenblatt.

Dengan semua manfaat kecantikan dan kebugaran tersebut, mengapa para perempuan masih merasa "terpaksa" melakukan hubungan seksual, dan hanya menjadikannya kewajiban untuk "melayani suami"? Bagi mereka, permasalahan utamanya adalah tidak adanya waktu. Seks mungkin ideal untuk dilakukan menciptakan hubungan yang harmonis antara suami dan istri, namun sekarang ini seks bukanlah realita yang penting dibandingkan dengan bekerja dan melakukan aktivitas sosial lainnya.

Banyak perempuan yang masih beranggapan bahwa bercinta hanya bisa dilakukan di kamar dan dengan suasana yang hening serta romantis, sehingga akan membutuhkan banyak waktu dan hanya bisa dilakukan di waktu luang. Padahal kenyataannya tidak demikian. Mengapa tidak mencoba morning sex, ketika tubuh Anda masih terasa bugar? Anda juga bisa mencuri-curi waktu saat liburan bersama anak-anak untuk quickie sex.

Pendek kata, kalau mau usaha, sebenarnya Anda bisa melakukan hubungan seks lebih sering, dan lebih menyenangkan!

Kamis, 10 November 2011

Banyak Perempuan Tak Tahu Orgasme

(News Today) - Dalam beberapa literatur dikatakan, salah satu sebab permasalahan dalam rumah tangga adalah tidak adanya keharmonisan hubungan suami istri. Sulit atau tidak pernah mencapai orgasme saat berhubungan intim menjadi salah satu faktor pencetusnya.

Menurut penulis buku bertema kesehatan Lianny Hendranata, banyak wanita Indonesia dalam beberapa kasus tidak pernah mengalami, bahkan tidak tahu apa yang dimaksud orgasme. "Banyak faktor penyebabnya, antara lain posisi saat melakukan, pengetahuan yang minim, hambatan psikis atau fisik dan trauma," ujarnya saat peluncuran buku The Power of Sex, Sabtu (25/6/2011).

Selama ini, berhasil atau tidak tercapainya kepuasan seksual lebih banyak ditentukan dari pihak pria (suami). Karena ada anggapan, pria lebih terbuka dalam hal seksualitas. Padahal, kepandaian kedua pasangan menjadi kunci utama dalam mendapatkan kepuasan tersebut.

Selain itu, kurangnya pemanasan yang berupa rangsangan dari pihak laki-laki, serta pemahaman yang kurang terkait daerah erotis perempuan, juga bisa berpengaruh pada pencapaian kepuasan saat berhubungan.

"Permainan yang menarik adalah jika keduanya menikmati permainan tersebut dengan rasa bahagia. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara pasangan agar sama-sama belajar untuk meraih orgasme bersama," imbuhnya.

Lianny mengungkapkan, seseorang yang mengalami masalah dengan kemampuan seksnya bukan semata-mata masalah pada organ atau kelamin, tetapi lebih karena terganggunya keharmonisan energi.

Oleh karena itu, Lianny menganjurkan, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti adanya perselingkuhan dan perceraian, penting untuk kedua pasangan yang sudah mulai dingin melakukan lagi bulan madu kedua. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengendalikan energi seksual.

"Sebab, energi kejiwaan seperti marah, merasa disepelekan, ketidakpuasan itu sangat berkaitan dengan energi seksual," pungkasnya.

Kenikmatan seksual akan diperoleh apabila pasangan merasakan kepuasan bersama. Ini adalah tanggung jawab bersama, bukan sepihak. Ketulusan saat berhubungan intim sangat menentukan energi seks yang akan mengalir.